Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

 

     Dengan satu gelas air pemberian Ismaya, Alhamdulillah perut Sukma yang kesakitan akibat makan terlalu banyak kini sudah sembuh seperti biasa. Perjalanan menyelusuri jalan Braga pun dilanjutkan dengan rokok tersemat di jari-jari mereka.

     “Is, pantas tidak kalau aku jadi seorang mubaligh?” Kata Sukma kepada Ismaya sambil berjalan.

     “Pantas, Ma” sahut Ismaya, “Kamu ingin jadi mubaligh yang bagaimana?”

     “Aku ingin menjadi mubaligh seperti ustadz-ustadz di TV.” Tukas Sukma, “Agar pesan dakwah itu bisa tersebar secara universal. Karena media TV sangat efektif untuk itu. Pokoknya aku ingin menjadi seorang mubaligh terkenal seperti: AA Gym, Ustadz Jefri, Anton Medan, Ustadz Solmet, atau siapa pun yang sering nongkrong di TV.”

     “Wah berat syaratnya, Ma?” ujar Ismaya sambil menepuk-nepuk bahu Sukma

Sukma menghentikan langkahnya dan menahan Ismaya. Kemudian ia bertanya dengan wajah yang begitu serius,

     “Apa syaratnya?”

     “Kamu harus melakukan banyak dosa dahulu. Berani?” tantang Ismaya dengan sorot mata yang serius juga kepada Sukma

     “Kenapa seperti itu, Is?” Tanya Sukma heran dan berharap mendapat jawaban.

     “Kamu harus tahu, Bung, umat Islam kini mudah dibujuki. Sekarang siapa saja bisa jadi mubaligh dan tokoh Islam mendadak. Cukup bermodalkan assalamualaikum, hafal beberapa ayat, pernyataan tobat, dan pengakuan dosa, seseorang bisa tiba-tiba menjadi tokoh Islam yang mengalahkan ustadz-ustadz asli yang sejak kecil belajar Islam dan berdakwah dengan sungguh-sungguh. Pokoknya, kalau mau menjadi mubaligh top, perbanyaklah dosa terlebih dahulu, setelah itu pakai metode khusnul khatimah, maka media-media akan memuatnya karena kontroversial. Jadi, betapa pentingnya dosa buat seorang mubaligh.”

     “Kalau begitu tidak jadi, Is.” Pungkas Sukma dan langsung mengajak Ismaya melanjutkan perjalanan menuju mesjid agung Bandung untuk shalat Maghrib.