Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Sesepuh kampung Tumaritis tidak hanya Abah Wiranta, tapi ada teman seperjuangannya yang sama-sama merintis tegaknya kampung yang begitu indah dengan suasana alamnya ini, yakni Abah Dangdeur. Namanya sedikit lucu, karena Dangdeur dalam bahasa Sunda berarti singkong. Masyarakat memanggilnya Abah Dangdeur karena dia begitu bermanfaat bagi masyarakat, sepertihalnya singkong yang semua unsur-unsurnya tidak ada yang terbuang sia-sia.

     Hanya saja, sudah tiga bulan Abah Dangdeur menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dia tak bisa lagi bertani dan membimbing masyarakat Tumaritis, karena kakinya sudah tak mampu digerakan. Abah Wiranta mengajak Sukma, Ismaya, Jang Rumpak, Jang Ohok, dan Jen Daki untuk menjenguk Abah Dangdeur.

     Sesampai di rumahnya, Abah Dangdeur langsung menyambut mereka dengan seutas senyum yang begitu tulus. Abah Wiranta langsung memeluknya, pipi keriput mereka pun kini telah terbasahi oleh air mata. Para pemuda yang melihat itu tidak bisa untuk tidak menangis, melihat sepasang sahabat yang sedang berbincang mesra.

     “Bagaimana keadaanmu, Ta?” sapa Abah Dangdeur pada Abah Wiranta dengan suara parau

     “Baik, Deur, Alhamdulillah.”

     “Sepertinya aku akan segera bertemu kekasihku, Allah. Aku begitu merindukan-Nya, Ta,” Ucap Abah Dangdeur. Wajahnya menampakan kebahagiaan yang tak bisa ditebak oleh orang yang melihat.

     “Jangan berkata begitu, Deur,” Abah Wiranta menyeka air matanya yang tadi sempat berderai, “Masyarakat disini masih membutuhkanmu.”

     Abah Wiranta tak tahan melihat sahabatnya yang terkulai lemah. Dia pamit keluar dan menyuruh para pemuda masuk menjenguknya.

     “Kemarilah kalian.” Seru Abah Dangdeur kepada Ismaya dan kawan-kawannya yang berdiri di dekat pintu.

     Ismaya dan kawan-kawannya satu persatu mencium tangan Abah Dangdeur dengan penuh takdzim. Abah Dangdeur meminta kepada Ismaya agar dirinya didudukan. Setelah posisi Abah Dangdeur duduk, Ismaya dan kawan-kawannya duduk di bawah dipan kasur yang sedang diduduki oleh Abah Dangdeur.

     “Bagaimana dengan belajar kalian?” Tanya Abah Dangdeur dengan sorot mata yang sejuk.

     “Alhamdulillah, Bah,” sahut Sukma.

     “Kenapa wajah Abah tidak sedikitpun menyiratkan rasa sakit atau pun menyesal dengan sakit yang diderita, padahal Abah sudah begitu lama tak bisa melayani masyarakat dan tak membimbing masyarakat secara langsung?” Tanya Jen Daki polos.

     Abah Dangdeur hanya tersenyum mendengar ucapan Jen Daki. Kemudian beliau berkata, “Kenapa dengan keadaan sakit seperti ini, Abah selalu bahagia? karena bagi Abah sakit itu adalah seperti sebuah pembebasan yang diberikan Allah kepada Abah.”

     “Kebebasan bagaimana, Bah?” Sahut Jang Rumpak meminta penjelasan.

     “Bagaimana tidak, Abah jadi lebih banyak diam di rumah bersama keluarga, abah bisa menolak jika disuruh ini itu oleh masyarakat luas, kalau shalat Abah boleh duduk, Abah pun diperbolehkan untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat. Dan kalau mau sesuatu, Abah tinggal meminta untuk dilayani.” Kata Abah Dangdeur sambil tertawa.