Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

      Karena lapar tak bisa tertahankan oleh Sukma, ia akhirnya mengajak Ismaya untuk menikmati Mie Kocok Bandung di depan Gedung, itu merupakan makanan yang bagi Sukma sangat enak. Pantas, harganya pun mahal. Setelah duduk di bangku yang telah disediakan pemilik Mie Kocok, Ismaya memesan 1 mangkok mie kocok, tapi Sukma tak tanggung-tanggung, ia memesan tiga mangkok mie kocok. Lapar.

     “Sorry, Is, aku sangat lapar, dan ingin coba makanan yang sedikit mahal dibanding biasanya.” Sukma tersenyum sambil mengeluarkan satu bungkus rokok dari sakunya.

     “Ya mangga, Ma, mau kamu makan dengan rodanya pun, aku rela.”

     Mereka berdua tertawa.

     Setelah bakso tersaji, Ismaya makan dengan tenang dan berharap makanan yang masuk ke tubuhnya menjadi keberkahan dalam menjalani kehidupannya. Tapi Sukma, dengan lahap dan semangatnya ia memakan Mie kocok. Setelah habis yang ada di mangkok pertama, ia langsung melahap mie yang ada di mangkok kedua, dan kemudian yang ketiga. Hasilnya, perutnya sudah tak kuat dan seakan-akan ingin meledak. Kamarekaan. Di pinggir jalan itu ia tergeletak lemah sambil mengaduh, sedangkan Ismaya hanya tertawa dan sesekali menyesap rokoknya penuh nikmat.

     “Is, sakit sekali perutku ini.” Sukma mengaduh kesakitan.

     “Bagaimana tidak, kamu makan berlebihan, Ma.” Kata Ismaya enteng.

   “Pantas kita jangan sampai mengikuti syahwat perut, beginilah jadinya.” Sukma masih tergeletak di atas tanah sambil memegangi perutnya.

  “Ah jangan salahkan perut, Ma,” Sergah Ismaya, “Memang selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang terlalu professional dan hanya mencari uang, kita sebut ‘diperbudak oleh perut’. Para koruptor kita gelari ‘hamba perut’ yang mengorbankan kepentingan Negara dan rakyat demi kepentingannya sendiri. Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekedar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi kuning atau hamburger, Warteg Bi Waro atau masakan Jepang dan Europa. Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup dengan harga lima ratus perak. Tapi, lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu, atau mungkin sepuluh juta.”

    Sementara itu Sukma masih meraung kesakitan ketika mendengarkan kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut Ismaya.

     “Makan,” Ismaya melanjutkan, “yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, tapi ketika sudah ada di kaki lidah justru diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status social, gengsi, feodalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan manusia lainnya. Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir, atau direkayasa menjadi urusan-urusan budaya dan peradaban, yang membuat biayanya menjadi sangat mahal. Budaya rekayasa makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkan oleh kepercayaan budaya bahwa harus selalu ada proses kreatif. Dan itu membuat orang menyelenggarakan modifikasi budaya makan, pembaruan tekhnologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat makannya, nuansanya, music penggiringnya, pewarnaan meja kursi, dinding hingga karaokenya. Rekayasa budaya makan itu akhirnya juga menciptakan berbagai ketergantungan manusia. Sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia rela menyunat uang proyek, bernegosisasi di bursa efek, memonopoli sembako, tipu kanan kiri, bahkan berperang dan membunuh satu sama lain.”

     “Is,” Sukma menyela, “Kalau kamu bicara terus, kapan aku dikasih minumnya???”