Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Rumah Jang Ohok yang dipakai untuk menyaksikan laga pertandingan sepakbola antara Indonesia dan Malaysia, dipenuhi oleh teriakan-teriakan bahagia, kecewa, dan juga tegang yang terus memekik dari mulut Sukma dan kawan-kawannya yang lain. Akan tetapi, di tengah hiruk pikuk dan riuh rendah itu, ada satu orang yang damai dalam diamnya, yang hanya memegang dagu sambil sesekali menyesap rokoknya penuh kenikmatan. Ismaya, ya, dia adalah Ismaya yang begitu khidmat memperhatikan laga pertandingan yang ditunggu itu, meski tanpa harus berteriak-teriak seperti sahabatnya yang lain.

      “Kamu kenapa, Is?” Sukma bertanya sambil menepuk pundak Ismaya.

    “Tidak apa-apa, Bung. Aku sedang melihat sepakbola seperti kalian.” Tukas Ismaya dengan wajah yang amat tenang.

     “Kamu tidak semangat, Is.!” Kata Sukma menggerutu,

    “Lihatlah aku, Jang Rumpak, Jang Ohok yang terus bersemangat agar Garuda Muda bisa menang. Tunjukkan dong loyalitasmu kepada bangsa ini.”

    “Ada-ada saja kamu, Bung.” Ismaya tersenyum mengejek kata-kata Sukma.

    “Bukan ada-ada saja, Bung,” Bantah Sukma, “Kalau cara menonton bola seperti kamu sekarang, itu nggak akan asik. Mending kamu nonton wayang saja.”

   “Aku memang sedang menonton wayang, Bung, menonton kehidupan.” Ismaya menjelaskan

     “Maksudmu?”

   “Lapangan sepakbola adalah lapangan kehidupan. Semua yang ada di lapangan sepakbola benar-benar terjadi dalam kehidupan manusia.”

       “Aku semakin tidak mengerti, Is,!”

   “Maksudku, dalam lapangan sepakbola ada perbenturan kepentingan, persaingan antarteman sekelompok, kebahagiaan dan kekecewaan, superioritas dan inferioritas, kecemburuan, politik, nasionalisme dan religiusitas”