Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Purnama, begitulah aku memanggil nama kekasihku ini. Seorang gadis sederhana dari desa Dangdeur, Kelurahan Cigendel-Sumedang. Melalui catatan-catatan kecil ini aku ingin mengenang cintanya, kasihnya, dan sedikit tentang ucap dan sikapnya. Biarkan orang-orang menuduhku lebay, biarkan orang-orang mencaciku pemuda ungu, atau mungkin biarkan mereka mencecarku, “Dasar pembual.!!!” Biarkan orang-orang berkata semau mulut mereka. Tapi, tolong berikan aku waktu sejenak untuk sedikit mengamalkan firman Tuhan, ‘Faa’mma bini’mati robbika fahaddits’ (Jika kau memiliki nikmat, maka tebarkanlah, maka umumkanlah). Ya, kenikmatan yang Tuhan berikan padaku akhir-akhir ini, dan begitu aku rasakan adalah ketika ada Purnama yang memberi banyak cinta.

     Baru tiga hari menjalin hubungan dengannya, aku sudah berani membawanya ke rumah, bertemu ayah dan ibuku. Dan, ini adalah pertama kalinya aku membawa seorang wanita, atau tegasnya seorang kekasih, bertemu dengan keluargaku. Entah kenapa aku berani seperti itu, yang pasti ada sebuah keyakinan muncul, ‘DIA ADALAH TULANG RUSUKKU’

     “Apa Nenk siap jika Aa bawa ke rumah?” Tanyaku ketika itu.

     “Insyaallah, A, Nenk sudah siap.” Tandasnya dengan wajah serius.

     “Apakah Nenk tidak merasa ini terlalu cepat?” Aku mencoba memancingnya, “Bukankah kita baru beberapa hari menjalin hubungan?”

     “Aa, entah kenapa Nenk begitu yakin sama Aa,” Dia menjawab seraya menatap mataku, “Dan Aa pun sudah yakin sama Nenk. Jadi kita tunggu apa lagi. Kita berdua sudah saling ridho. Tinggal kita meminta restu orang tua kita berdua, agar segera turun restu Sang Maha”

     Ah aku senang mendengar jawabannya. Seutas senyum kulemparkan kepadanya

     “Mungkin Nenk masih muda,” Lanjutnya sambil tersenyum kecil, “Tapi bukan berarti Nenk tidak bisa berfikiran tua.”

     Dewasa, itu yang ia maksudkan berfikiran tua.

     Tak bisa kupungkiri, dialah kekasih yang membasuh luka yang pernah merajah jiwa. Dialah kekasih yang tiba-tiba mencabut pedang khianat yang menghunus kalbu. Dan, dialah kekasih yang dengan tangan lembutnya membimbingku kembali memeluk Tuhan Yang Maha Tak Terbayangkan. Tidak ada yang kulebih-lebihi soal ini, tak ada yang kureka, hanya bahasanya saja yang beda dan sedikit ‘nyastra’.

     Aku masih ingat tetesan air matanya, ketika ia menceritakan masa lalunya yang tak jauh beda denganku. Sakit. Pedih. Juga luka yang dihujamkan oleh seseorang yang pernah ia cintai. Dari sana kami berdua mengeluarkan sebuah kata, sebuah kalimat yang tiba-tiba saja ada,

        Getih asih nu pernah ngabayabah

        Geus kakumbah ku anjeun nu nyaah

        Kanyeri nu pernah nyayang dina dada

        Geus sirna saprak anjeun mikacinta