Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Dulu, setelah aku menyatakan cinta kepada Purnama, aku tidak serta-merta diterimanya, tak lantas diridhoinya untuk menjadi kekasih, melainkan aku digantungnya dulu selama beberapa hari. Sedih dan takut memang, karena ada rasa takut yang menganga jiwa. Takut tidak diterimanya, dan takut kejadian masa laluku terulang, yakni harus menunggu jawaban seorang gadis yang dicintai selama 1,5 tahun. Sungguh, aku tak mau kejadian itu terulang. Lelah dan sakit.

     “Tulislah apa yang ingin kamu katakan kepadanya. Katakan isi hatimu melalui bahasa pena.” Kata seorang sahabatku setelah mendengar semua ceritaku tentang ketakutan itu.

     Idenya sedikit aneh, tapi apa salahnya jika kucoba. Lalu jika sudah kutulis semua kata yang ingin agar Purnama mendengarnya, bagaimana caranya agar ia bisa membacanya? Apa harus lewat surat? Ah meski pun romantis, namun ini bukanlah zaman Fir’aun. Tiba-tiba aku ingat dengan websiteku, bukankah itu bisa kujadikan sebagai media agar Purnama bisa membacanya? Ya, aku memutuskan menerbitkan bahasa hatiku melalui website, dan alamat lengkapnya akan kukirimkan kepada Purnama.

     Dan, akhirnya aku menerbitkan sebuah posting di website, khusus untuk Purnama. Khusus untuk Purnama.

UNTUK DEWI AMALIA PURNAMAWATI

(Sebongkah Bahasa Hati)

Nenk.. Adakalanya kata-kata tidak bisa diungkapkan lewat lisan. Oleh karena itu, manusia bisa meminta tolong kepada pena. Dan Aa adalah salah satu manusia yang minta tolong itu. Aa berharap Nenk membaca tulisan ini dengan hati, bukan dengan mata. Karena Aa menulis semua ini dengan hati juga. Dan biarkan website Aa dan para pengunjungnya menjadi saksi bongkahan rasa yang Aa tulis ini.

Nenk.. Aa sangat setuju ketika Kahlil Gibran berteriak, “Bohong! Kalau cinta datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus. Cinta akan datang ke dada manusia secara tiba-tiba dan seketika.” Itu yang kini Aa rasakan kepada Nenk. Maka, Nenk tidak perlu menanyakan kenapa Aa bisa menyayangi Nenk, atau apa alasan Aa menyayangi Nenk. Aa selalu berprinsip, cinta itu datang tanpa alasan, namun dari seringnya bersama, alasan-alasan itu akan timbul dengan sendirinya.

Nenk.. Sudah sangat lama Aa tidak merasakan nikmatnya mencintai seorang wanita seperti sekarang, setelah satu kejadian yang membuat Aa memutuskan untuk membuat sebuah Novel 1 tahun lalu, yang naskahnya kini ada di tangan Nenk. Alasan Aa  cepat-cepat mengungkapkan rasa ini, karena Aa tidak mau terulang lagi kejadian yang pernah menghiasi masa lalu Aa. Yakni bertahun-tahun hidup dalam sebuah ketidakpastian hubungan.

Nenk.. Ketika malam tadi Aa mengutarakan rasa, yang mana sampai sekarang Nenk  belum memberi jawaban secara pasti, Aa tidak tahu alasan Nenk berbuat itu apa. Apakah karena Nenk sudah menyayangi lelaki lain? atau Nenk lebih menikmati kesendirian? Atau mungkin karena ada lelaki lain seperti Aa yang juga menunggu jawaban Nenk? Aa tidak tahu. Tapi yang pasti, ketika Nenk sudah yakin akan jawabannya, segeralah beritahu Aa.

Nenk.. Terakhir, biarkan Aa mengutip sebuah sajak Ismaya Kholilullah (Salah satu tokoh dalam novel Tahun Tanpa Tuhan) ketika menyatakan cintanya kepada seorang gadis yang ia cintai. Entah puisi ini berlebihan atau tidak,  terlalu lebay dan gombal atau tidak, tapi Aa ingin menuliskannya disini.

Nenk…

Kuharap engkau berpasangan denganku

Sampai waktu yang dimau Tuhan kita berpasangan

Bergandengan tanganlah kita

Hingga sayap-sayap panjang nan lebar menyala

Dalam ikatan agung menyatukan kita

 

Nenk..

Kuharap engkau berpasangan denganku

Menghimpun rahmat Tuhan

Dan menikmatinya bersama

Karena alam dan karunia-Nya

Terlampau luas untuk dinikmati sendirian

 

Nenk..

Kuharap engkau berpasangan denganku

Bersama dalam setiap keadaan

Karena kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis,

Mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencoba,

Dan mereka yang mampu memahami arti hidup bersama

 

Nenk..

Kuharap engkau berpasangan denganku

Bersama walau sampai sayap-sayap luka meliputi kita

Atau kita akan bersama dalam musim sunyi

Tempat angin syurga menari-nari diantara bahtera sakinah kita

 

Nenk..

Kuharap engkau berpasangan denganku

Bersama selalu menyanyi dan menari dalam pilu dan rindu

Tapi mari kita biarkan diri masing-masing

Menghayati waktu sendirinya

 

Nenk..

Kuharap engkau berpasangan denganku

Kita akan memberikan hati masing-masing

Tapi tidak untuk saling menguasai

Karena jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri kita sendiri

 

Nenk..

Aku mencintaimu

Sangat mencintaimu

Tapi maaf…

Tak bisa kulebihi Allah dalam diriku