Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

   Diam, melirih, merindu, bergumam kecil, geleng-geleng kepala, meneteskan air mata, dan sedikit tersenyum kulakukan di kamar tidurku. Sendiri. Hanya sendiri. Di sudut ruang berukuran 3X4 M ini, ada sebuah meja kecil yang diatasnya ada bingkai tegak berdiri, bergambar segurat wajah wanita yang sorot matanya selalu menyinari diri yang sepi, diri yang terkadang tak mampu menahan nyeri, diri yang setiap hari mentertawakan wajah jiwanya sendiri.

   Sorot kedua matanya membuatku takut, membuatku merinding, namun sekaligus memaksaku untuk semakin tajam menatapnya. Padahal aku takut. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sabdakan, seakan ada sekumpulan nasihat yang ingin ia bisikan. Tapi apa? Aku tak tahu. Aku tak ingin asal menebaknya. Maklum, aku adalah sesosok manusia yang sering dikepung rasa sia-sia, rasa bersalah, rasa amat kotor, rasa banyak bacot, rasa tak berbuat, meski ia akan tetap duduk abadi jika aku menebak-nebak apa yang ingin dirinya katakan.

   Aku curiga, wanita dalam bingkai itu ingin berkata, “Awalilah setiap langkahmu dengan asma Tuhan. Selalulah memohon ampun atas sikapmu yang selalu merasa punya nama, yang tak kunjung tahu bahwa segala sesuatu akan hanya tinggal satu, Dia. Hanya Dia. Tuhan. Kau adalah kepunyaan-Nya, kau tidak abadi, kau tidak sejati.”

   Atau mungkin ia ingin bergumam, “Mencintalah secara dewasa, yakni kesediaan untuk berkorban. Untuk hal-hal yang menyenangkan, kekasih yang harus kau dahulukan. Sebaliknya, untuk hal-hal yang menyengsarakan, kau lah yang harus tegak berdiri di garis depan.”

   Tapi bisa saja ia hanya ingin berbisik, “Aku akan selalu mencintaimu, akan selalu merindukanmu, akan selalu menggagas do’a dan cita untukmu, masa sekarangmu, dan masa esokmu.”

   Entahlah, sebenarnya apa yang ingin ia katakan. Wajah itu memang selalu mengundang teka-teki. Wajah yang jika aku melihatnya dalam keadaan sedih, hatiku benar-benar akan bersimbah darah. Wajah dalam bingkai itu adalah seseorang yang memungkinkanku untuk menangis meski telah dewasa. Cukup dengan menatap wajahnya, yang penuh rindu dan cinta, air mataku bisa tiba-tiba merebak.

   Sudahlah, aku sungguh tak mampu mentafsirkan, atau sebatas menggambarkan yang ingin ia katakan kepadaku, walau sedikit. Meski pun begitu, aku ingin memeluknya walau ia ada dalam bingkai, lalu kukatakan sesuatu kepadanya, “Ibu.. Aku mencintaimu. Kau tak bisa mati dalam hidupku. Sampai larut malam usiaku nanti, ibu menanggung cintaku.”

Bandung. 22 Januari 2012.