Harry_RoesliHarry Roesli memiliki nama lengkap Djauhar Zahrsyah Fachrudin Roesli, lahir pada tahun 1951 di Bandung Jawa Barat. Ayahnya adalah seorang jenderal sedangkan ibunya bekerja sebagai seorang dokter. Harry Roesli juga cucu dari seorang pujangga besar Marah Roesli. Bakat seni yang sangat kental merupakan warisan dari atmosfer keluarga yang juga mencintai seni. Harry Roesli merupakan seorang figur yang memiliki perjalanan hidup yang menarik, mulai dari perjalanan pendidikan, karier musik, kiprahnya di dunia sosial sampai urusan asmara yang mempertemukannya dengan wanita yang sampai saat ini tetap setia menjadi istrinya yaitu Kania Perdani Handiman.

Harry Roesli resmi menikah dengan sang istri Kania Perdani Handiman pada tahun 1981 dan dikaruniai dua anak laki-laki kembar, Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana. Kedua putranya tidak secara formal memperlajari seni, tetapi sampai saat ini kedua anaknya menjadi penerus salah satu cita-cita Harry yang memiliki empati terhadap anak-anak jalanan untuk dibina.

Sebagai seorang seniman Harry Roesli tidak secara gamblang memproklamirkan dirinya sebagai seorang komposer yang “biasa-biasa saja”, namun dia lebih lantang menyuarakan apa yang ingin dia lakukan dari pada memikirkan hal-hal yang bersifat eksplisit dan implisit. Mack mengatakan bahwa “Harry memang merupakan seorang komposer, tetapi bukan dalam arti murni, sebab dia lebih mirip seorang seniman “pluralistik“, dimana menciptakan karya hanya merupakan salah satu aspek usahanya (Wawancara, 8 Januari 2012).

Harry Roesli menuangkan berbagai kreativitas seninya terhadap idealisme seorang “seniman sosial” yang bergerak untuk memperhatikan kehidupan anak-anak jalanan. Ia berdiri dalam tiga paradigma yang kritis terhadap rezim pemerintahan yang kurang sejalan dengan pemikirannya, mendidik dan berkarya sebagai seorang seniman yang utuh.

Selain sebagai seorang seniman, Harry Roesli juga sebagai seorang pelatih musik. Karya-karyanya yang seolah jauh dari nilai komersil merupakan alat yang digunakan dalam mengekspresikan perasaan hatinya terhadap situasi sosial dan politik yang sedang terjadi. Beberapa dari ekspresi itu sering ditularkan kepada anak didiknya lewat berbagai cara, termasuk mewadahi para anak-anak jalanan lewat pelatihan musik.

Sosok Harry Roesli yang memiliki banyak dimensi dalam kehidupannya diasosiasikan dalam satu komunitas. Segala bentuk kegiatan berkesenian yang terjadi di dalamnya dihimpun dalam RMHR. Di dalam tubuh RMHR sendiri terdapat banyak produk, salah satunya adalah Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Terlepas dari berbagai persoalan di dalamnya, RMHR masih tetap eksis dan memiliki formula yang unik dalam merekrut anak-anak jalanan dan melatih musiknya.

Beberapa anak-anak jalanan dididik menggunakan metode tertentu. Salah satu indikatornya adalah mereka mampu memainkan beberapa dari karya Harry Roesli yang terkenal dengan “musik kolase”-nya dengan tingkat kompleksitas yang cukup tinggi. Hal ini tidak terlepas dari persoalan metode pengajaran yang baik. Gordon (1980: 10) mengatakan bahwa: “Although learning takes place wether method is appropriate or not, it is most efficient and meaningful when method is appropriate”, artinya metode merupakan yang tepat akan memberikan hasil yang sangat efisien dan berarti bagi sebuah pelatihan musik itu sendiri.

Kiprah di Dunia Musik

Harry Roesli memang seorang seniman yang “fluktuatif”, dalam arti tidak memiliki pakem tertentu terhadap penuangan ide-ide dalam karya-karyanya. Dia selalu mengalir. Titik balik kariernya yang semakin mantap berawal dari keputusannya untuk melanjutkan studi yang ia dapat melalui beasiswa di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. Pada saat itu gaya bermusiknya banyak terinspirasi pada John Milton Cage Jr, band Gentle Giant dan komposer Frank Zappa. Ini dapat diidentifikasi melalui komparasi secara auditif.

Yang agak membedakannya dari Fank Zappa, Mas Harry selalu mengutamakan aktivitas sosial yang konkret di luar musiknya sendiri. Dilihat dari sudut ini, Mas Harry juga biasa disebut sebagai seorang “pembantu sosial karismatik” yang menggunakan medium musik demi berbagai tujuan sosial tertentu (Mack)

Sementara itu, Mack juga pernah menulis tentang pendapat Harry Roesli mengenai keadaan musik Indonesia yang aktual:
‘Kalau bicara soal musik harus membedakan antara musik sebagai industri dan musik sebagai ekspresi kesenian. Kalau musik sebagai komoditi dagang, jika secara estetis bagus, ya laku.Dan di kita kondisinya cukup maju. Terlihat dari pemusik yang aksentuasinya dengan dagang kini sudah bisa hidup dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Berarti musik sebagai komoditi dagang sudah jalan baik.Tapi di samping itu juga ada musik yang berdiri di daerah kesenian. Musik-musik kesenian ini merupakan dialog dia dengan seni, tidak ada kontaminasi dengan dunia dagang. Nah, di jalur ini memang kurang banyak tampil’. (Bandung Pos, 18 Mei 1994)

Pernyataannya itu seolah memberikan stigma bahwa dia adalah seorang “seniman sejati”, bukan artis yang berorientasi pada nilai-nilai komersil. Selain berkarya, Harry banyak terlibat dalam beberapa kegiatan yang bukan hanya mengusung misi kemanusiaan tetapi memiliki dampak yang cukup besar.

Pada tanggal 12 April 1975, Nama Harry Roesli mulai dikenal luas dengan pergerakannya membuat pertunjukan “Rock Opera Ken Arok” di Gedung Merdeka Bandung. Harry Roesli lebih cenderung menamakan kegiatannya itu Wayang Orang Kontemporer. Pergelaran yang banyak menarik perhatian itu dipentaskan ulang pada 2 Agustus 1975 di Balai Sidang Jakarta. Rock Opera Ken Arok-nya mulai merambah ke berbagai daerah di Indonesia termasuk ke Semarang pada Januari 1976. Tetapi, pergelarannya dihentikan oleh yang berwajib dengan alasan naskah pertunjukan terlambat tiba di meja pemberi izin. Pencekalan pergelaran memang sering terjadi pada masa Orde Baru. Yang jelas, pencekalan itu bukan karena musik rock atau jenis musik lain yang diramu oleh Harry Roesli, melainkan karena aspek bahasa atau liriknya yang kurang berkenan di telinga para penguasa “Orde Baru” saat itu.

Gaya Musik Harry Roesli

Harry Roesli merupakan seniman yang duduk diantara beberapa “kursi”. Pengkategorian itu dapat dibedakan berdasarkan riwayat hidupnya yang berawal dengan para sahabatnya membentuk band yang bernama “Philosophy Gang of Harry Roesli”pada tahun 1973-1979yang sukses menghasilkan album pertama yang dinamai sama dengan nama bandnya. Bandnya itu domotori oleh Albert Warnerin (gitar), Janto Soedjono (drum, perkusi), Indra Rivai (keyboard), Harry Pochang (harmonika, vokal) dan Dadang Latief (gitar). Rully, adik dari istri Harry Roesli mengatakan bahwa “proses bermusik seorang Harry Roesli selama hidupnya sangat dipengaruhi oleh orang – orang yang berada di sekitarnya ataupun kecendrungan musik dari luar negeri dan juga pengalaman dia mendapatkan pendidikan” (manuskrip pribadi).

Bersama bandnya, Harry Roesli berhasil membuat sebanyak 13 album yang terhitung cukup produktif, yaitu:
Philosophy Gang of Harry Roesli – Musica record – Lion Record 1973
Titik Api – Aktuil Musicollection 1976 (album solo)
Ken Arok – Eterna 1977 (album solo)
Tiga Bendera – Musica Studio’s 1977 (album solo)
Gadis Plastik – Chandra Recording 1977 (album solo)
LTO – Musica Studio’s 1978 (album solo)
Harry Roesli dan Kharisma 1 – Aneka Nada (1977)
Musik Akustik Monticelli – Hidayat Audio (1977) (kompilasi)
Harry Roesli dan Kharisma 2 – Aneka Nada (1978)
Jika Hari Tak Berangin – Aneka Nada (1978) (album solo)
Daun – SM Recording (1978) (album solo)
Ode dan Ode – Berlian Record (1978) (album solo)
Kota Gelap – Purnama Record (1979) (album solo)

Di beberapa album tersebut, terdapat beberapa benang merah dan ciri-ciri yang menggambarkan secara umum gaya bermusik seorang Harry Roesli. Di Album pertama, Harry Roesli tampak menggabungkan berbagai nuansa, seperti rock, funk, folk, blues, R&B serta jazz. Harry tidak ingin terkotak dalam satu genre musik karena dia ingin bebas memainkan apa yang disukainya. Harry didukung oleh pemusik yang paham kemauannya seperti Albert Warnerin yang memiliki sentuhan progresif dalam pola permainan gitarnya, Harry Pochang dengan permainan harmonikanya yang ‘bluesy’ (kental dengan blues), dan Indra Rivai yang saat itu juga tergabung sebagai pemain keyboard Bimbo dan memberikan kontribusi yang unik melalui permainan keyboard-nya.

Pada album keduanya yaitu “Titik Api” sampai ke album keempatyaituTiga Bendera” , disinilah Harry mulai memadukan antara unsur musik tradisi (pentatonik) yang direpresentasikan melalui instrumen musik gamelan, terompet pencak, karinding dan lain-lain. Sebagai representasi dari unsur musik modern (diatonik) menggunakan instrumen gitar, bas, drum, keyboard dan lain-lain. Karya Harry ini banyak ditentang oleh para pemusik tradisi pada saat itu. Mereka beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Harry merusak musik tradisi. Tetapi tidak semua pemusik tradisi pada saat itu menentang, ada pula yang mendukung Harry, salah satunya adalahRaden Ading Afandiyang dikenal sebagai pendiri group “Lingga Binangkit” dan “Patria”.

Pada album “Gadis Plastik”sampai album “Kota Gelap”, Harry mulai meninggalkan “gaya” musik yang memadukan musik tradisi dengan musik modern dan kembali pada format album pertama. Yang membedakannya kali ini, Harry dipengaruhi oleh beberapa “band Barat” yang sedang popular saat itu yang dibawakan oleh group dari luar negeri, seperti Gentle Giant, Pink Floyd, Santana, Emerson lake and Palmer, Jimie Hendrix, Frank Zappa, dan lain-lain. Secara tidak langsung Harry memperkenalkan gaya kontrapung-nya (suatu komposisi musik dengan gaya bersahut-sahutan atau jalur melodi berlawanan) Gentle Giant, struktur harmoni para pemusik Barat pada saat itu, gaya komposisi dan penulisan liriknya Frank Zappa semuanya menjadi ide pokok yang terdapat juga dalam karya-karya Harry Roesli.

Lirik juga menjadi senjata yang tak kalah pentingnya bagi seorang Harry Roesli. Melalui lirik ia menyampaikan pesan-pesan yang tersirat dan penuh dengan ruang untuk berinterpretasi. Denny Sakrie (seorang pengamat musik) mengulas tentang gaya penulisan lirik yang terdapat pada lagu “Malaria”:

‘Keterampilan Harry Roesli merangkai lirik pun telah terurai jelas jika disimak, Sensitivitas Harry Roesli sebagai seniman memang setajam pisau. Harry merasa rakyat, sebagai wong cilik, merupakan makhluk tiada daya sama sekali. Namun, Harry beranggapan bahwa jangan anggap remeh rakyat kecil. bagi Harry, rakyat kecil memang tak lebih dari seekor nyamuk, yang sekali tebas langsung mati terkapar. Namun nyamuk itu adalah malaria, yang mampu menyebar virus mematikan dalam arti sebenarnya. Ah kang harry memang terampil bertamsil kata. Dia piawai berfilosofi.’ (manuskrip keluarga).

Sumber : Riyan Hidayat