Posts from the ‘Cerpen’ Category

SEPAKBOLA KEHIDUPAN

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Rumah Jang Ohok yang dipakai untuk menyaksikan laga pertandingan sepakbola antara Indonesia dan Malaysia, dipenuhi oleh teriakan-teriakan bahagia, kecewa, dan juga tegang yang terus memekik dari mulut Sukma dan kawan-kawannya yang lain. Akan tetapi, di tengah hiruk pikuk dan riuh rendah itu, ada satu orang yang damai dalam diamnya, yang hanya memegang dagu sambil sesekali menyesap rokoknya penuh kenikmatan. Ismaya, ya, dia adalah Ismaya yang begitu khidmat memperhatikan laga pertandingan yang ditunggu itu, meski tanpa harus berteriak-teriak seperti sahabatnya yang lain.

Baca lebih lanjut…

REKAYASA BUDAYA MAKAN

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

      Karena lapar tak bisa tertahankan oleh Sukma, ia akhirnya mengajak Ismaya untuk menikmati Mie Kocok Bandung di depan Gedung, itu merupakan makanan yang bagi Sukma sangat enak. Pantas, harganya pun mahal. Setelah duduk di bangku yang telah disediakan pemilik Mie Kocok, Ismaya memesan 1 mangkok mie kocok, tapi Sukma tak tanggung-tanggung, ia memesan tiga mangkok mie kocok. Lapar.

     “Sorry, Is, aku sangat lapar, dan ingin coba makanan yang sedikit mahal dibanding biasanya.” Sukma tersenyum sambil mengeluarkan satu bungkus rokok dari sakunya.

     “Ya mangga, Ma, mau kamu makan dengan rodanya pun, aku rela.”

     Mereka berdua tertawa.

Baca lebih lanjut…

BERDOSA-DOSALAH DAHULU, JADI MUBALIGH KEMUDIAN

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

 

     Dengan satu gelas air pemberian Ismaya, Alhamdulillah perut Sukma yang kesakitan akibat makan terlalu banyak kini sudah sembuh seperti biasa. Perjalanan menyelusuri jalan Braga pun dilanjutkan dengan rokok tersemat di jari-jari mereka.

     “Is, pantas tidak kalau aku jadi seorang mubaligh?” Kata Sukma kepada Ismaya sambil berjalan.

     “Pantas, Ma” sahut Ismaya, “Kamu ingin jadi mubaligh yang bagaimana?”

     “Aku ingin menjadi mubaligh seperti ustadz-ustadz di TV.” Tukas Sukma, “Agar pesan dakwah itu bisa tersebar secara universal. Karena media TV sangat efektif untuk itu. Pokoknya aku ingin menjadi seorang mubaligh terkenal seperti: AA Gym, Ustadz Jefri, Anton Medan, Ustadz Solmet, atau siapa pun yang sering nongkrong di TV.”

Baca lebih lanjut…

SAKIT SEBAGAI SEBUAH PEMBEBASAN

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Sesepuh kampung Tumaritis tidak hanya Abah Wiranta, tapi ada teman seperjuangannya yang sama-sama merintis tegaknya kampung yang begitu indah dengan suasana alamnya ini, yakni Abah Dangdeur. Namanya sedikit lucu, karena Dangdeur dalam bahasa Sunda berarti singkong. Masyarakat memanggilnya Abah Dangdeur karena dia begitu bermanfaat bagi masyarakat, sepertihalnya singkong yang semua unsur-unsurnya tidak ada yang terbuang sia-sia.

     Hanya saja, sudah tiga bulan Abah Dangdeur menderita sakit yang tak kunjung sembuh, dia tak bisa lagi bertani dan membimbing masyarakat Tumaritis, karena kakinya sudah tak mampu digerakan. Abah Wiranta mengajak Sukma, Ismaya, Jang Rumpak, Jang Ohok, dan Jen Daki untuk menjenguk Abah Dangdeur.

Baca lebih lanjut…