Posts from the ‘Emha Ainun Nadjib’ Category

Manusia Pasca Ibrahim

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kata orang arif, kebanyakan Kaum Muslimin dewasa ini maqam ilmu hidupnya ‘masih Hindu’, ada juga gejala ‘sudah Budha’ atau bahkan ‘sudah Kristen’, namun kondisi rata-ratanya adalah ‘belum Islam’. Jadi masuk akal kalau pengetahuan mengenai kesempurnaan Islam atau kepamungkasan kenabian Muhammad lebih diterima sebagai dogma gelap dari pada basil internalisasi. Tidak diketahui dan kurang dipelajari oleh kebanyakan Kaum Muslimin tanjakan-tanjakan kwalitatif ilmu kehidupan yang diperankan oleh urutan-urutan ’25 aktor’ Rasul menuju al-ufuq al-mubin yang bernama Islam. Orang Islam tiap hari berpuluh-puluh kali mengucapkan ‘Allahu Akbar’ tidak karena takjub oleh setiap terminal penghayatan ilmu, rnelainkan karena “setiap serdadu harus apel di setiap Parade Senja”.

Peluang untuk thalabul ‘ilmi secara jujur juga makin sempit peluangnya oleh politik misalnya oleh konsep SARA yang ndeso. Tidak populer bagi kita progressi dari ‘Adam Balita’, ‘Nuh TK’, ‘Ibrahim Remaja’, ‘Ismail DO’, ‘Musa Sarjana Anyaran’, ‘Isa Doktor GR’ dan- ‘Muhammad Paripurna’. Kita tidak memiliki kebebasan akademik dan tidak bersikap historis terhadap proses pertumbuhan ilmu di bumi, karena agaknya Musa, Isa, Budha, dan Muhammad itu berasal dan hidup untuk planet sendiri-sendiri.

Baca lebih lanjut…

Iklan

Agama Yang Kontekstual Terhadap Perubahan Sosial

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Agama sedang digadang-gadang untuk berperan memperbaiki peradaban masa depan ummat manusia. la ibarat pelita kecil di sayup-sayup abad 21 yang dituntut untuk menjanjikan sesuatu sejak sekarang. Kecemasan para pakar pemerhati sejarah terhadap hampir seluruh evil product bidang-bidang politik, ekonomi, budaya serta semua muatan perilaku sejarah umat manusia, akhimya diacukan kepada kemungkinan peran agama.

Tulisan ini sekedar permintaan interupsi sesaat, yang penawaran tesisnya amat bersahaja. Sebaiknya kita tidak usah terlalu tergesa-gesa memperpanjang pembicaraan tentang apa yang didorongkan oleh agama terhadap proses perubahan sosial, sebelum kita benahi dahulu dasar filosofi, epistemologi, atau bahkan “sekedar” struktur logika kita dalam memahami Agama. Pada akhimya ini mungkin “sekadar persoalan tetapi saya tidak bisa berhenti pada anggapan demikian. Saya tidak pemah sanggup mengucapkan kata “Agama berperan dalam ..,”. Saya hanya bisa menjumpai agama sebagaimana kayu, atom, biji besi, dedaunan atau anasir alam lainnya: ia tidak bisa menjadi subyek.

Baca lebih lanjut…

Al-Baqoroh Telah Memberi Kita Alarm

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Salah satu ‘ijaz Al-Qur’an ialah bahwa sistematikanya tidak dapat dirumuskan. Kita bisa misalnya, menyusun klasifikasi per-disiplin : ada ayat hukum, ayat ekonomi, ayat moralitas, ayat astronomi atau biologi. Ibarat samudra, kita ambil satu ember airnya untuk kita masukkan ke dalam tabung yang berbeda-beda sesuai dengan approach yang kita gunakan. Besok pagi kita akan menemukan suatu kenyataan bahwa pengisian tabung itu bisa kita tukar dan balik atau kita campurkan sekaligus. Kita mungkin akan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah suatu dimensi petunjuk yang multikompleks, kamil, paripurna namun sesungguhnya lebih dari itu.

Al Qur’an itu tiada ‘jarak’nya dengan Allah : dan kita menyebut Allahu Akbar. Akbar bukan Kabiir. Bukan saja Maha Besar, melainkan lebih dari Maha Besar. Jika kita mampu membayangkan yang lebih besar lagi dari batas besar yang bisa kita capai, maka Ia lebih besar. Jika Maha Besar itu seolah-olah bisa kita ‘fahami’ dengan rasa-pengertian kita, maka Ia lebih lagi. Kata Maha itu, meskipun tidak terbayangkan, namun ia memberi kesan statis, tetap, atau berhenti. Tetapi Lebih Besar, memberi kesan dinamis, hidup, bergerak. Suatu keterus-menerusan dan ketiada-terbatasan. Dengan permenungan tertentu kita barangkali mampu menggapai taraf demi taraf kebesaran, tetapi kita akan ‘lenyap’ di satu level tertentu, sebab kita tidak akan bakal mencapai ruang dan tak akan dipeluangi waktu untuk mengejar yang lebih Besar dan terus Lebih Besar.

Baca lebih lanjut…

Ensiklopedi Emha Ainun Nadjib Part 11

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

  • Kita bisa seminggu penuh ngelembur mencatati kacaunya feosalisme dan hebatnya demokrasi, atau sebaliknya.
  • Tugas pemerintah mengolah modal kekayaan Negara untuk kesejahteraan rakyat lahir bathin.
  • Derajat pemerintah ada di bawah maqam rakyat. Tugas mereka mengolah modal kekayaan Negara untuk diantarkan kepada rakyat. Demokrasi adalah satu jenis kendaraan untuk mengantarkan kesejahteraan itu.
  • Baca lebih lanjut…