Posts from the ‘gender’ Category

MENUJU PENDIDIKAN YANG RESPONSIF GENDER

oleh:
Yeti Heryati

I. Pendahuluan
Suatu hal yang sangat menyentuh, tatkala seorang Megawati Soekarnoputri hendak mencalonkan diri menjadi presiden, banyak orang menentang dengan beragam argumentasi. Alasan pendidikan, kecakapan, hingga dalil pengharaman menjadi pemimpin (presiden) dan sebagainya, hanya karena dia perempuan.
Karakteristik pasif, submisif, inferior, dan irasional yang distereotipkan pada perempuan bagaikan sesuatu yang given dan final, padahal itu merupakan hasil konstruksi budaya yang disosialisasikan dalam lingkungan keluarga dan komunitas masyarakat secara luas. Baca lebih lanjut…

Isyarat Gender

Tuty Alawiyah, S.Pd

Perbedaan linguistik  semata-mata merupakan suatu cerminan perbedaan sosial, dan selama masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda—dan tidak setara—maka perbedaan dalam bahasa laki-laki dan perempuan akan terus ada. (Coates, 1986, Vi dalam Graddol & Swann, 1989, 13).
A.    Pendahuluan
Kajian relasi bahasa dan jender merupakan salah satu topik yang sensitif dalam sosiolinguistik karena tidak hanya berkaitan dengan kategori linguistik semata tetapi menyangkut kehidupan sosial laki-laki dan perempuan. Baca lebih lanjut…

TEORI GENDER, ISLAM DAN MODERNISME

Oleh Lilis Sulastri
Asia pada tiga tahun ke belakang disebut-sebut sebagai benua penguasa ekonomi masa depan. Beberapa negara, termasuk di dalamnya Indonesia, karena pertumbuhan ekonominya yang pesat dianggap sebagai macan atau naga Asia.  Tanpa berupaya menghilangkan kenyataan terakhir bahwa Asia terserang virus krisis moneter, perubahan derajat ekonomi di benua ini telah mempengaruhi pola pandang pola pandang tertentu. Perubahan ekonomi dari kondisi kekurangan uang dan barang pada kondisi meluapnya barang dan uang mengakibatkan perubahan cara pandang negara terhadap sumber daya, baik alam maupun manusia. Simpelnya cara pandang kontemporer dipengaruhi oleh cara pandang yang berniat menangguk keuntungan dalam paradigma ekonomisasi. Salah satu masalah yang mungkin berubah adalah permasalahan gender dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi tersebut.

Perempuan dalam Paradigma Tasawuf Wujudi

Ahmad Gibson Al-Bustomi Dan Bambang Q. Anees

Pemilahan Manusia dalam “Paradigma Modern” Manusia dalam kehidupannya di dunia semesta, secara real mengalami proses pengkutuban. Kenyataan yang mendorong manusia untuk berada di satu sisi dan menapikan sisi yang lain, atau paling tidak menjadikan sisi yang lain sebagai tidak dianggap penting. Dan, khususnya  pada era modern, sisi yang dinafikan atau tidak dianggap penting tersebut kebanyakkan adalah sisi ruhaniah. Sisi yang secara teologis disebut sebagai sisi ilahiyah (aspek transenden dari manusia, atau aspek imanen dari Tuhan). Penapian tersebut menjadikan perbedaan atau plutalitas pada manusia tidak menemukan titik temunya. Fenomena tersebut akan ditemukan secara lebih nyata pada masyarakat yang konstruk sosio-budayanya tidak dibangun di atas (tidak memiliki dasar) konstruk religius. Di barat, sebagai contoh, secara secara stereotif dianggap sebagai pusat kelahiran dan berkembanganya paradigma positivistik– yang tentunya menolak realitas non-alamiah Baca lebih lanjut…