Posts from the ‘Liberalisme Islam’ Category

Jaudat Said dan Tafsir La Ikraha Fi al-Din

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Dengan alasan itu, mereka melakukan pemaksaan bahkan kekerasan agar orang lain masuk ke dalam agama yang dipeluk dirinya. Orang seperti ini, menurut Jaudat Said, mengidap penyakit jiwa (maradl nafsiy). Orang yang berjiwa sehat adalah mereka yang berupaya bagi tegaknya kebebasan beragama. Bahkan, Said menegaskan bahwa jihad disyari’atkan untuk menghapuskan pemaksaan (al-ikrah) dan membiarkan seluruh manusia merdeka dalam memilih sesuatu yang dianggapnya benar. Baca lebih lanjut…

Iklan

Jalan Sensualitas, Pintu Spiritualitas

Oleh Muhammad Nugroho

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (‘fana) seperti yang dialami para mistikus. Sensualitas dan spiritualitas sebagai proses keberagamaan masih diyakini oleh arus utama (mainstream) agamawan, khususnya Islam, sebagai dua aspek yang berposisi opisisional. Sensualitas yang bisa didefinisikan sebagai pencerapan dengan panca indera diasumsikan fakultas tubuh yang menghalangi perjalangan menuju pintu spiritualitas. Baca lebih lanjut…

Reorientasi Dakwah Islam dan Pengabaran Injil

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Agama–terutama agama-agama besar dunia–merupakan gerakan kritik pada upaya penistaan atas manusia. Jika prinsip-prinsip dasar ajaran ini menjadi muatan dakwah dan misi Islam dan Kristen, maka kedua agama itu bisa saling melengkapi dan mempersyaratkan. Yang diuntungkan dari dakwah dan misi seperti ini tentu bukan hanya umat Islam dan Kristiani, melainkan seluruh umat manusia, terutama yang tertindas atau teraniaya. Baca lebih lanjut…

Rahmat Tuhan Tidak Terbatas

Jalaludin Rakhmat

Saya sering bicara tentang Islam di banyak gereja. Lalu banyak orang yang bertanya, sejak kapan Islam mengajarkan pluralisme? Kalau dalam Katolik baru dimulai sejak John Paul II atau Paus Johanes Palus II. Saya lalu katakan, pluralisme ada sejak zaman Rasulullah. Seorang pluralis adalah orang yang mengakui adanya banyak jalan menuju Tuhan. Lewat jalan yang beragam itu, masing-masing pemudik disemangati oleh etos bermusabaqah dalam kebajikan. Rahmat Tuhan yang tak terbataslah yang nantinya akan menentukan mana yang terbaik di antara para pemudik itu, tanpa memandang perbedaan agama dan golongannya. Baca lebih lanjut…