Posts from the ‘Saung Sufi’ Category

10 Tulah Tuhan dan Kebohongan Raja Pembohong

Oleh: Agus Sunyoto

 Gara-gara kampungnya diserbu ulat bulu, isteri Sukirin yang phobi ulat membawa tiga orang anaknya untuk mengungsi ke pesantren.  Sekalipun tidur beralas tikar, kamar pesantren terasa seperti surga daripada kasur empuk dirayapi ulat bulu yang mengerikan. Baru sehari tinggal di pesantren, tiga-empat orang kerabat isteri Sukirin  menyusul dengan alasan sama: phobia ulat!

Bermula dari cerita-cerita mengerikan tentang ulat-ulat bulu yang dibawa para perempuan phobia ulat itu, dalam pengajian Asapon malam Aboge Guru Sufi banyak dicecar jama’ah dengan  pertanyaan-2  sekitar pageblug ulat bulu. Bahkan tidak kurang yang mengkait-kaitkan pertanyaan dengan barisan bencana yang beriring-iringan seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, angin puting beliung,kecelakaan massal, ulat bulu. Baca lebih lanjut…

Misteri Di Balik Cerita Kyai Kholil Ingin Belajar Shalat

Oleh: Agus Sunyoto

Usai pengajian Aboge, saat  para sufi  minum kopi sambil makan singkong rebus,  tiba-tiba Dullah menuturkan sebuah cerita   yang diungkapkan kakeknya sebelum meninggal. Cerita itu, menurut Dullah, sengaja disimpan kakeknya karena dianggap cerita sepenggal yang tanpa kelanjutan. Di samping itu, cerita itu menyangkut orang-orang  yang sudah meninggal dunia seperti Kyai Kholil Bangkalan dan Ustadz Al-Kasan Wahab Bandung. Rangkaian ceritanya, ringkasnya seperti ini:

Tahun 1930-an umat Islam di Hindia Belanda diguncang tuduhan sebagai kaum muslimin yang terjangkit penyakit TBC (Tachayul-Bid’ah-Khurafat) akut yang harus disembuhkan. Sebab penyakit TBC yang akut akan menjadikan penderitanya sesat di dunia dan akhirat, sehingga takdir penderitanya akan berakhir di neraka.  Salah seorang tokoh pemberantas penyakit TBC yang termasyhur saat itu adalah ustadz  Al-Kasan Wahab, asal Bandung,  Jawa Barat. Sejumlah tokoh agama tradisional di sejumlah kampung  yang didatangi dan diajak berdebat  “adu resep obat” penghilang TBC, membuat nama Al-Kasan Wahab semakin melambung di penjuru Hindia Belanda.

Baca lebih lanjut…

UAN & SNMPTN Dalam Pandangan Sufi

Oleh: Agus Sunyoto

Gara-gara setia mendampingi anak dan keponakannya belajar serius menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dan bahkan mengantar mereka ziarah ke kubur wali agar dapat barokah dan lulus ujian, Sukiran jatuh sakit dan dirawat di RSUD. Ketika Sukiran menghadap Guru Sufi untuk meminta barokah doa bagi kesembuhan ayahnya, ia berpapasan dengan Sufi tua dan mengabarkan keadaan ayahnya yang sedang sakit. Tahu bahwa penyebab jatuh sakitnya Sukirin adalah UAN, Sufi tua menyayangkan kekeras-hatian ayah dari Sukiran itu yang enggan menuruti sarannya. “Aku sudah memberitahu bapakmu, untuk tidak terlalu serius menghadapi UAN bagi adikmu. Berkali-kali aku katakan, bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh gelar akademis dan ijazah sekolah,” kata Sufi tua.

       “Tapi mbah,” sahut Sukiran tidak faham,”Kalau tidak serius belajar, nanti tidak lulus ujian. Kalau tidak lulus ujian, berarti tidak bisa ikut tes SNMPTN dan itu berarti tidak bisa kuliah adik saya.”

         “He, apa kau pikir UAN itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional?” tanya Sufi tua.

         “Ya pasti begitu toh mbah,” sahut Sukiran ketawa,”Namanya juga Ujian Akhir Nasional. Jadi itu seleksi evaluative hasil belajar tingkat nasional. Kan siswa yang ikut UAN juga skalanya nasional? Bagaimana toh mbah?”

Baca lebih lanjut…

Dan Tukang Mengkafirkan Itu Pun “Minggat”

 Oleh: Agus Sunyoto

 Sejak sebulan lalu, kampung-kampung di sekitar pesantren sufi digemparkan oleh kemunculan seorang ustadz bernama Sukijo As-Salaf, yang mengajarkan hal-hal aneh yang membingungkan masyarakat. Selain mengharamkan slametan, tahlilan, yasinan, petungan nagadina, maulid, ziarah kubur, diba’an, dan barzanjian, ustadz Sukijo As-Salaf mengharamkan pula televisi, facebook, twitter, menyanyi, menari, bertepuk tangan, bahasa Inggris, filsafat, tasawuf, pengobatan medis, dan aktivitas-aktivitas lain yang dinilai tidak Islami.

         Ustadz Sukijo As-Salaf yang mengontrak rumah tak jauh dari pesantren sufi, dalam pengajian-pengajian yang disampaikannya seperti sengaja menghujat berbagai praktek yang berkaitan dengan amaliah tasawuf yang dijalankan santri-santri sebagai perbuatan bid’ah, khurafat dan takhayul sesat yang membawa kepada kekafiran yang wajib diberantas. Anehnya, ustadz Dul Wahab yang dikenal suka mengecam pesantren sufi, ternyata tidak luput dari hujatan ustadz Sukijo As-Salaf yang menuduh ustadz Dul Wahab dan murid-muridnya telah melakukan amaliah bid’ah karena diam-diam masih suka mendengarkan lagu-lagu ruhani yang dinyanyikan Bimbo, mengisap sisha (rokok Arab), sering kedapatan memakai celana dan jas, dan menghalalkan gaji PNS, yaitu amaliah bid’ah yang akan membawa pengamalnya ke jurang kekafiran. Dan lebih-lebih sewaktu melihat praktek-praktek keagamaan masyarakat kampung, ustadz Sukijo As-Salaf langsung menghukuminya sebagai tindakan sesat kaum kafir dalam mengikuti ajakan setan.

Baca lebih lanjut…