Posts from the ‘Sejarah Sunda’ Category

Kujang Dalam Beberapa Naskah

Untuk mencermati lebih jauh mengenai kujang, berikut ini informasi mengenai kujang seperti terdapat dalam beberapa naskah tertulis yang diperoleh. Hal ini sebagai upaya dokumentasi naskah mengenai kujang agar memudahkan semua pihak yang hendak melakukan kajian lebih mendalam.

Menurut Anis Djatisunda yang mengambil tinjauan tentang Kujang dari Pantun Bogor, bentuk kujang yang digunakan pada masa kejayaan Kerajaan Pajajaran terdiri dari: Kujang Ciung, yang bentuknya menyerupai burung Ciung; Kujang Jago atau Kujang Hayam, bentuk menyerupai ayam jago; Kujang Kuntul, bentuknya menyerupai burung kuntul; Kujang Bangkong, seperti bangkong (kodok); Kujang Naga, bentuknya seperti naga

Baca lebih lanjut…

Iklan

Kedalaman Makna Syair Lagu “Cing Cangkeling”

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Cing cangkeling
Manuk cingkleung cineten
Blos ka kolong
Bapa satar bulendeung

Gubahan Syair lagu di atas sangat tak asing bagi masyarakat Sunda. Karena syair ini adalah salah satu lagu rakyat yang sering dinyanyikan oleh orang sunda dari dulu hingga sekarang. Walau sekarang ini sudah sangat tersaingi oleh lagu-lagu yang bernuansa ‘ECENGISASI”

Syair lagu ‘Cing cangkeling’ yang terlihat seperti syair tanpa makna, dan hanya sebatas guyonan belaka, ternyata memiliki kedalaman makna yang luar biasa tentang ketenangan jiwa. Entah siapa yang menggubah syair lagu ini. Tapi yang penting bukan siapa pembuatnya, melainkan apa pesan yang diselipkan oleh si penggubah syair ‘Cing cangkeling’. Baca lebih lanjut…

Permusuhan Banten-Jawa

Permusuhan Banten dan Jawa dilatarbelakangi oleh keinginan Mataram untuk menguasai seluruh pulau Jawa.
Pada tahun 1624, Mataram menaklukkan Madura dan pada tahun 1625 merebut pelabuhan Surabaya. Baca lebih lanjut…

Tatar Galuh

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh”, berasal dari kata “sakaloh” artinya ..”dari sungai asalnya”, dan dalam lidah Banyumas “ sakaloh “ tersebut Baca lebih lanjut…