Posts from the ‘Tulisanku’ Category

Kajian Hadits Dakwah

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

“Apabila salah seorang diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, dan apabila masih tidak mamp, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Baca lebih lanjut…

Iklan

Serpihan Agama Islam

Serpihan Agama Islam

Oleh: Mama Mughni Shiddiq

Islam adalah proses menyelamatkan antar manusia di depan Tuhan yang maha esa. Islam juga berarti sentosa, damai, atau selamat. Oleh karena itu, orang yang berserah diri, tunduk dan patuh kepada Allah, maka ia dikatakan sebagai muslim. Hanya kebanyakan manusia zaman ini, mereka hanya mengaku muslim atau mengaku beragama islam, akan tetapi mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada peraturan yang dibuat Allah. Oleh karena itu mereka disebut “Muslim abangan”. Abangan dalam istilah jawa digunakan terhadap pemeluk islam dijawa yang kurang memperhatikan perintah-perintah Allah dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agamanya.
Baca lebih lanjut…

Tarekat at-Tijani diantara pecinta dan penentang

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.

Pada tahun 1186 (1772 – 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya.
Baca lebih lanjut…