MEMELUK WAJAH DALAM BINGKAI
Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti
Diam, melirih, merindu, bergumam kecil, geleng-geleng kepala, meneteskan air mata, dan sedikit tersenyum kulakukan di kamar tidurku. Sendiri. Hanya sendiri. Di sudut ruang berukuran 3X4 M ini, ada sebuah meja kecil yang diatasnya ada bingkai tegak berdiri, bergambar segurat wajah wanita yang sorot matanya selalu menyinari diri yang sepi, diri yang terkadang tak mampu menahan nyeri, diri yang setiap hari mentertawakan wajah jiwanya sendiri.
Sorot kedua matanya membuatku takut, membuatku merinding, namun sekaligus memaksaku untuk semakin tajam menatapnya. Padahal aku takut. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sabdakan, seakan ada sekumpulan nasihat yang ingin ia bisikan. Tapi apa? Aku tak tahu. Aku tak ingin asal menebaknya. Maklum, aku adalah sesosok manusia yang sering dikepung rasa sia-sia, rasa bersalah, rasa amat kotor, rasa banyak bacot, rasa tak berbuat, meski ia akan tetap duduk abadi jika aku menebak-nebak apa yang ingin dirinya katakan.





