SEBUAH KARYA

JUDUL          : LAAILAAHA ILLA ANA (Tiada Tuhan Selain Aku)
Penulis          : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit       : PURNITI PUBLISHING
Jumlah         : 192 Halaman
Harga            : Rp. 30.000 (Belum termasuk ongkos kirim)
Untuk Pemesanan, Hubungi 081809030748

ADA APA DI BALIK FACEBOOK?

Oleh : Andre Scavonovonic

Sungguh tidak tenang apabila kita mengetahui sesungguhnya apa yang terjadi dengan jaring sosial kesayangan banyak orang ini. Jejaring yang katanya sangat-sangat dipuja dan dicintainya oleh kurang lebih saat ini berjumlah 700 juta penggunanya, luar biasa. Namun sesungguhnya kita semua tidak mengetahui apa yang terjadi dibalik Facebook kita tercinta, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan dilakukan dengan 700 juta pengguna ini.

Mungkin banyak orang tidak begitu heran, apabila Facebook telah bekerjasama dengan FBI dan beberapa agen rahasia Amerika Serikat Lainnya. Tidak juga heran dan kaget bila akun milik kita di Facebook itu, ternyata juga dilihat dan dibaca oleh mereka para agen FBI dan kawan-kawannya. Bahkan masih tidak heran dan tidak terkejut kita, mengetahui bahwa tingkat keamanan di Facebook masih cukup rentan. Namun apakah kita tidak cukup menarik nafas, apabila membaca beberapa informasi mengenai kejadian di balik Facebook yang sesungguhnya. Read more…

HANYA INI KADO PERNIKAHAN DARIKU, KAK

      Kak, Masih ingatkah ketika aku dan kau bercengkrama, berbicara tentang masa depan dan cita-cita. Kita dulu masih kecil, kak, masih sangat kecil. Hanya bermain dan meminta uang jajan yang bisa kita lakuka, sehingga pembicaraan tentang cita-cita itu mungkin hanya iseng-iseng saja.

     Tapi kini, setelah kita semakin besar, setelah kita disebut oleh orang lain bertambah dewasa, setelah kita mulai serius berkata-kata tentang harapan dan cinta, maka kau harus pergi meninggalkanku juga ayah ibu. Kau pergi membawa seorang wanita yang kau cintai dan idam-idamkan menjadi sahabat hidupmu, yang akan melayanimu lahir bathin.

Read more…

MEMELUK WAJAH DALAM BINGKAI

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

   Diam, melirih, merindu, bergumam kecil, geleng-geleng kepala, meneteskan air mata, dan sedikit tersenyum kulakukan di kamar tidurku. Sendiri. Hanya sendiri. Di sudut ruang berukuran 3X4 M ini, ada sebuah meja kecil yang diatasnya ada bingkai tegak berdiri, bergambar segurat wajah wanita yang sorot matanya selalu menyinari diri yang sepi, diri yang terkadang tak mampu menahan nyeri, diri yang setiap hari mentertawakan wajah jiwanya sendiri.

   Sorot kedua matanya membuatku takut, membuatku merinding, namun sekaligus memaksaku untuk semakin tajam menatapnya. Padahal aku takut. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sabdakan, seakan ada sekumpulan nasihat yang ingin ia bisikan. Tapi apa? Aku tak tahu. Aku tak ingin asal menebaknya. Maklum, aku adalah sesosok manusia yang sering dikepung rasa sia-sia, rasa bersalah, rasa amat kotor, rasa banyak bacot, rasa tak berbuat, meski ia akan tetap duduk abadi jika aku menebak-nebak apa yang ingin dirinya katakan.

Read more…

KADEUDEUH MADE IN CIGENDEL (PART III)

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

   Segumpal rindu tiba-tiba menggebu, sekerat rasa ingin jumpa menggelora. Kepada Purnama. Ya, Purnama kekasihku. Sudah tiga hari ia pulang ke kampung halamannya di Cigendel, untuk bertemu Ibu Bapak dan sanak saudaranya. Memang, ketika ia hendak berangkat egoku mengigau, “Harusnya kau di sini saja, jangan meninggalkanku. Jangan kemana-mana.”. Akan tetapi aku harus merelakannya, aku harus bersabar untuk suatu saat berjumpa denganya lagi.

     Aku sadar, meski Purnama terpental jauh ke kota untuk menjadi seorang Mahasiswa yang harus mumet oleh peraturan universitas, dan dia memilikiku yang bersedia menemani hari-harinya, dia tetaplah seorang manusia yang batinnya terus mendorong untuk mencari sumbernya sendiri. Sumber, asal-usul, dan mata air eksistensi itu adalah ibu bapaknya, sanak saudaranya, serta sekampung halaman dan handai taulan. Aku ikhlas, aku rela, membiarkannya pulang.

Read more…

KADEUDEUH MADE IN CIGENDEL (PART II)

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Dulu, setelah aku menyatakan cinta kepada Purnama, aku tidak serta-merta diterimanya, tak lantas diridhoinya untuk menjadi kekasih, melainkan aku digantungnya dulu selama beberapa hari. Sedih dan takut memang, karena ada rasa takut yang menganga jiwa. Takut tidak diterimanya, dan takut kejadian masa laluku terulang, yakni harus menunggu jawaban seorang gadis yang dicintai selama 1,5 tahun. Sungguh, aku tak mau kejadian itu terulang. Lelah dan sakit.

     “Tulislah apa yang ingin kamu katakan kepadanya. Katakan isi hatimu melalui bahasa pena.” Kata seorang sahabatku setelah mendengar semua ceritaku tentang ketakutan itu.

Read more…