Wahai Tuhan yang Agung
Aku hanya manusia yang tak punya apa-apa
Takkan pernah punya apa-apa
Dan memang tak berguna buat apa-apa
read more…
Wahai Maha Penggembala kecerdasan makhluk
Yang memiliki kepintaran Maha Dahsyat
Ilmu-Mu tak terbatas
Walau lautan jadi tinta
Pohon jadi pena
read more…
21. Yang ada tinggi rendah itu hanya nilai. Kalau manusia ya sama saja.
22. Manusia apapun posisinya harus belajar bergaul dalam kesejajaran harkat, dalam keadilan dan keseimbangan nilai diantara mereka.
23. Baik orang penindas maupun orang yang tertindas layak kita cintai. Hanya saja, cara kita mencintai harus berbeda. Kaum tertindas kita cintai dengan santunan dan sumbangan perubahan, sedang kaum penindas kita cintai dengan cara menegur atau mendongkelnya.
11. Di tengah seribu hal yang menympekkan, tak kurang jua yang meringankan.
12. Yang terkenal belum tentu bermutu, yang bermutu belum tentu dikenal.
13. Kita terseret untuk membenci orang kaya, atau mencintai kemiskinan, saking getolnya membela orang miskin. Jadi sama halnya dengan setiap orang memeras orang miskin, karena sangat getol dengan kekayaan. Artinya, apakah untuk menjadi kaya harus melalui memiskinkan orang dahulu?
1. kenapa kita tak bersedia merasa sebagai anak yang sedang belajar, sehingga ketidakmampuan itu wajar dan tak perlu ditutup-tutupi. Kenapa kita cenderung menciptakan diri menjadi nabi-nabi kecil yang bersabda dengan gagah perkasa
2. Tak seorang pun mampu mengada tanpa karena
3. Yang kita kehendaki dari anak-anak kita terutama adalah kepatuhan dan ketertiban dalam ukuran-ukuran kita sendiri. Kita kurang memiliki tradisi empati untuk membayangkan dan sampai batas tertentu membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri.
Wahai Allah yang Agung
Dosa yang aku perbuat
Salah yang aku tanam
Tak pernah maksud meledek-Mu
read more…
