MEMELUK WAJAH DALAM BINGKAI

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

   Diam, melirih, merindu, bergumam kecil, geleng-geleng kepala, meneteskan air mata, dan sedikit tersenyum kulakukan di kamar tidurku. Sendiri. Hanya sendiri. Di sudut ruang berukuran 3X4 M ini, ada sebuah meja kecil yang diatasnya ada bingkai tegak berdiri, bergambar segurat wajah wanita yang sorot matanya selalu menyinari diri yang sepi, diri yang terkadang tak mampu menahan nyeri, diri yang setiap hari mentertawakan wajah jiwanya sendiri.

   Sorot kedua matanya membuatku takut, membuatku merinding, namun sekaligus memaksaku untuk semakin tajam menatapnya. Padahal aku takut. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sabdakan, seakan ada sekumpulan nasihat yang ingin ia bisikan. Tapi apa? Aku tak tahu. Aku tak ingin asal menebaknya. Maklum, aku adalah sesosok manusia yang sering dikepung rasa sia-sia, rasa bersalah, rasa amat kotor, rasa banyak bacot, rasa tak berbuat, meski ia akan tetap duduk abadi jika aku menebak-nebak apa yang ingin dirinya katakan.

Read more…

KADEUDEUH MADE IN CIGENDEL (PART III)

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

   Segumpal rindu tiba-tiba menggebu, sekerat rasa ingin jumpa menggelora. Kepada Purnama. Ya, Purnama kekasihku. Sudah tiga hari ia pulang ke kampung halamannya di Cigendel, untuk bertemu Ibu Bapak dan sanak saudaranya. Memang, ketika ia hendak berangkat egoku mengigau, “Harusnya kau di sini saja, jangan meninggalkanku. Jangan kemana-mana.”. Akan tetapi aku harus merelakannya, aku harus bersabar untuk suatu saat berjumpa denganya lagi.

     Aku sadar, meski Purnama terpental jauh ke kota untuk menjadi seorang Mahasiswa yang harus mumet oleh peraturan universitas, dan dia memilikiku yang bersedia menemani hari-harinya, dia tetaplah seorang manusia yang batinnya terus mendorong untuk mencari sumbernya sendiri. Sumber, asal-usul, dan mata air eksistensi itu adalah ibu bapaknya, sanak saudaranya, serta sekampung halaman dan handai taulan. Aku ikhlas, aku rela, membiarkannya pulang.

Read more…

KADEUDEUH MADE IN CIGENDEL (PART II)

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Dulu, setelah aku menyatakan cinta kepada Purnama, aku tidak serta-merta diterimanya, tak lantas diridhoinya untuk menjadi kekasih, melainkan aku digantungnya dulu selama beberapa hari. Sedih dan takut memang, karena ada rasa takut yang menganga jiwa. Takut tidak diterimanya, dan takut kejadian masa laluku terulang, yakni harus menunggu jawaban seorang gadis yang dicintai selama 1,5 tahun. Sungguh, aku tak mau kejadian itu terulang. Lelah dan sakit.

     “Tulislah apa yang ingin kamu katakan kepadanya. Katakan isi hatimu melalui bahasa pena.” Kata seorang sahabatku setelah mendengar semua ceritaku tentang ketakutan itu.

Read more…

KADEUDEUH MADE IN CIGENDEL (PART I)

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Purnama, begitulah aku memanggil nama kekasihku ini. Seorang gadis sederhana dari desa Dangdeur, Kelurahan Cigendel-Sumedang. Melalui catatan-catatan kecil ini aku ingin mengenang cintanya, kasihnya, dan sedikit tentang ucap dan sikapnya. Biarkan orang-orang menuduhku lebay, biarkan orang-orang mencaciku pemuda ungu, atau mungkin biarkan mereka mencecarku, “Dasar pembual.!!!” Biarkan orang-orang berkata semau mulut mereka. Tapi, tolong berikan aku waktu sejenak untuk sedikit mengamalkan firman Tuhan, ‘Faa’mma bini’mati robbika fahaddits’ (Jika kau memiliki nikmat, maka tebarkanlah, maka umumkanlah). Ya, kenikmatan yang Tuhan berikan padaku akhir-akhir ini, dan begitu aku rasakan adalah ketika ada Purnama yang memberi banyak cinta.

     Baru tiga hari menjalin hubungan dengannya, aku sudah berani membawanya ke rumah, bertemu ayah dan ibuku. Dan, ini adalah pertama kalinya aku membawa seorang wanita, atau tegasnya seorang kekasih, bertemu dengan keluargaku. Entah kenapa aku berani seperti itu, yang pasti ada sebuah keyakinan muncul, ‘DIA ADALAH TULANG RUSUKKU’

Read more…

AKI DADAN, PELESTARI MAMAOS CIANJURAN

Seni tradisi mamaos cianjuran yang berbentuk penggabungan bacaan kisah adiluhung dengan permainan kecapi mulai berkembang di Cianjur pada 1834. Seni tradisi itu diwariskan oleh Dalem Pancaniti atau RAA Kusumaningrat, Bupati Cianjur saat itu. Mamaos cianjuran merupakan wejangan mengenai kebajikan-kebajikan hidup.

Seni tradisi itu dulu dipentaskan saat pernikahan, pertemuan, atau rapat warga yang dianggap sebagai momentum tepat untuk memberikan wejangan. Ketika hiburan modern terus berkembang dalam berbagai bentuk, seni mamaos cianjuran makin terpinggirkan. Belakangan ini seni mamaos cianjuran hampir sulit ditemukan dalam acara-acara yang diadakan masyarakat Sunda-Cianjur.

Read more…

TUHAN.. JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA, YAA???

Sanghyang Mughni Pancaniti

Tuhan..
Yang ketajaman ma’rifatnya beribu kelipatan cahaya
Tertawakah Engkau di sana?
Melihat mulutku yang berbusa
Meneriakan nama-Mu sembari berdusta
Menyebut-nyebut keagungan-Mu seraya menyunggi cela
Mengaku memiliki-Mu tapi hati berpura-pura
Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.