Oleh Cornelius Helmy dan Rony Ariyanto Nugroho

“Saya pernah disangka penjual batu ali dan orang Baduy karena memakai iket,” kata Agus Bebeng (30), pewarta foto lembaga kantor berita nasional Antara. Bebeng adalah salah seorang yang memilih identitas Sunda dalam penampilan sehari-hari.

“Memakai iket juga seperti menebus dosa budaya dan tanda cinta saya pada budaya Sunda. Dulu saya lebih memilih menggunakan mode Barat. Untuk penutup kepala, contohnya, saya memilih menggunakan slayer corak modern,” kata Bebeng.

Bebeng mulai menggunakan iket dari kain tahun 1997. Saat itu, ia terinspirasi masyarakat salah satu kampung adat. Keinginan memakai iket semakin besar ketika salah seorang tetua adat memberikannya selembar iket.

Hal serupa dialami Fachrul Rozi (27), fotografer lepas, yang sempat dianggap aneh ketika ada seorang ibu meminta foto bareng. Ibu itu menyangka ia adalah masyarakat desa adat.

Ia mempelajari lima teknik pemasangan iket. Teknik iket barangbang semplak lazim digunakan kusir dan jawara; koncer digunakan abdi dalem dan juragan; lohen digunakan pasangan pengantin; parekos digunakan pedagang dan petani; dan kuda mencar digunakan anak-anak.

“Tidak sekadar aksesori, iket ternyata juga menjadi lambang status sosial,” kata Rozi. Gaya dan “nyunda”

Ria Ellysa Mifelsa (29), penggiat komunitas teater Laskar Panggung, Bandung, mengaku, pertama kali menggunakan iket sepuluh tahun lalu hanya sekadar bergaya. Namun, lama kelamaan, itu justru menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan, khususnya ketika menghadiri acara tradisi Sunda.

Ia juga mempelajari bentuk iket berbagai macam daerah, filosofi, dan perkembangannya. Iket, disebutnya, multifungsi antara lain sebagai pelindung kepala, pembawa barang, dan status sosial. “Sama sekali tidak salah bila sebagian pengguna tidak tahu filosofinya. Saya sendiri tidak terlalu paham. Setidaknya kami menjadi bagian orang yang mencintai budaya Sunda,” katanya.

Menurut seniman Herry Dim, tidak dapat dimungkiri, khususnya di kota, iket menjadi sebuah gaya hidup. Seseorang ingin terlihat nyunda sehingga ia berpakaian Sunda. Namun, pandangan ini tidak bisa disalahkan. Menurut dia, semakin banyak orang menggunakannya, itu akan sangat berguna untuk melestarikan budaya Sunda.

Menurut dosen antroplogi Universitas Padjadjaran, Ira Indrawardhana, bagi masyarakat Sunda, iket bisa menjadi identitas. Dalam iket terkandung pesan antara lain menghormati orang tua dan selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas keinginan sendiri.

Namun, meski sudah menjadi mode, iket kerap dilupakan masyarakat Sunda. Penggunaannya kerap dikatakan kuno, ketinggalan zaman. Menurut Ira, itu merupakan pandangan keliru. Alasannya, masalah cocok atau tidak hanya berputar pada sering atau tidaknya suatu hal digunakan banyak orang. Ia mencontohkan peci yang dipopulerkan Soekarno atau kafiyeh yang dipopulerkan Yasser Arafat. Semakin banyak orang menggunakannya, masyarakat akan semakin mengenal dan menggunakannya.

Ira tidak mempermasalahkan iket digunakan sekadar mengikuti mode. Alasannya, selama iket digunakan dan dilihat banyak orang, itu tentunya menjadi promosi kuat bagi budaya Sunda.

“Saya pribadi memilih menggunakan iket cetak dengan gaya yang paling banyak digunakan, yaitu barangbang semplak. Penggunanya tidak perlu mengikat sendiri, tetapi disiapkan bentuk jadi sehingga tidak rumit,” katanya.

About these ads